Monday 2 November 2009

Teungku Syiah Kuala

Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).

Masa muda

Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Tarekat Syattariyah

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.

Pengajaran dan karya

Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Azyumardi Azra menyatakan bahwa banyak karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:
Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
-Tarjuman al-Mustafid. Merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
-Terjemahan Hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
-Mawa'iz al-Badî'. Berisi sejumlah nasehat penting dalam pembinaan akhlak.
-Tanbih al-Masyi. Kitab ini merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
-Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud. Memuat penjelasan tentang konsep wahadatul wujud.
-Daqâiq al-Hurf. Pengajaran mengenai taswuf dan teologi.

Wafat

Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.

Sumber : http://www.bluefame.com

14 comments:

  1. ternyata aceh dulunya syi'i

    ReplyDelete
  2. Aceh dari zaman dulu sudah menganut faham AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH..syech itu bukan syiah...

    ReplyDelete
  3. syiah atau bukan beliau, yang jelas beliau lebih baik ilmunya dari kita.

    ReplyDelete
  4. Ulama dan umara kharismatik yang menjalankan roda pemerintahan pada masa Ratu safiatuddin yang pada saat itu atjeh dalam keadaan kacau balau....

    ReplyDelete
  5. salah....syiah kuala bukan dari singkil..beliau dari arab..dan beliau tidak punya keturunan.......jangan angkat cerita yang salah!bisa jadi salah kaprah nanti,,,

    ReplyDelete
  6. salah...syiah kuala dari persi menetap di Singkil, bukan dari arab.

    ReplyDelete
  7. menarik sekali ceritanya sobat..
    namun kelihatanya perlu ditinjau ulang kembali mengenai sejarah2 Syekh Abdurrauf Singkil..


    salam kenal
    dari anak sidikalang

    ReplyDelete
  8. saya orang singkil.. makam syiah kuala juga ada disingkil, tepatnya di kampong kilangan kecamatan singkil. kira2 makam yang benar itu di banda aceh atau di Singkil ??

    ReplyDelete
  9. Tuan Makam itu tempat untuk ingatan terkadang simati itu dikebumikan di situ atau pernah berada lama di situ. Apa lagi ulama bertaraf Waliyulallah
    yang penting bukan di mana siapa dia dan adakah kita mengikut amalan,pegangan serta keyakinan seperti mereka.
    tq bro.

    ReplyDelete
  10. Harus dijelas kan pada kalangan masyarakat bahwa Syiah pada gelar abdul rauf berbeda dengan aliran Syi'ah. Syiah pada gelar tersebut mengartikan Syech

    ReplyDelete
  11. siapapun syiah kuala,beliau adalah fakta sejarah bagi aceh yg harus kita kenang dan teladani yang baiknya.tugas kita bukan banggakan sejarah trus tidur menghayal bahwa kita duluuuuuuuuuuuuuuuuuuu adalah bangsa yang besar.tapi kita hidup hari ini dan harus mencapai masa kejayaan saat ini bukan saat dulu.kita tidak akan hidup seperti dulu tapi akan hadapi masa kini.muphom......!

    ReplyDelete
  12. masih ingat ama doa yang di ajarkan turun temurun oleh orang tua kita saat shalawat
    "Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammad, wa ala ali sayyidina muhammad..."
    mungkin banyak anak aceh tau shalawat ini, ini shalawat syiah apa sunni yah...yang saya tau itu shalawatnya agama islam

    ReplyDelete
  13. po naggro, anda tau darimana Syekh Abdurrauf bukan lahir disingkil, dan tau darimana dia tidak punya keturunan,,, sebaiknya anda cari dan baca berbagai sumber yang ada, jangan berkomentar yang tidak punya referensi,,,

    saya anak singkil yang sekarang lagi penelitian lapangan dan menulis skripsi tentang makam syekh abdurrauf singkil, banyak referensi menyatakan dia orang singkil, dan bahkan saya menjumpai cucu keturunan ke7 syekh abdurrauf, yang sampai saat dan bukti barang peninggalan beliau masih ada,,

    biar kalian tau,, pada abad 6-7 sebuah kota tua yang bernama barus (fansur) pantai sumatra barat, menjadi salah satu pusat masuk islam dan berkembang, singkil hanya bertetangga dengan kota barus, dan itu mempunyai bukti ada makam tgk tertua dengan bernisan pada abad 6-7. jadi pastinya banyak para ulama2 menyiarkan islam melalui perdagangan masuk ke nusantara melalui kota tua (fansur Barus) juga sedemikian kerajaan samudra pasai

    syekh abdurrauf lahir disingkil pada 1024 H/1615 M, hingga pada tahun 1642 ia mengembara ke Timur tengah untuk memperdalam ilmu agama, selama 19 tahun ia menimba ilmu, setelah matang ia kembali ke aceh untuk mengajarkan ilmu yang diketahuinya di nusantara ini.

    yang datang dari persia ke nusantara itu nenek moyang beliau dan menetap disingkil, menurut saya lebih baik diam dari pada bercerita yang tau seluk beluknya,, salam anak aceh....

    ReplyDelete
  14. Belajar dari pengalaman jasa pahlawan aceh geutanyoe mandum

    ReplyDelete